Jumat, 15 Maret 2013

KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA


KEHIDUPAN AWAL MASYARAKAT DI KEPULAUAN INDONESIA

Dengan bantuan ilmu geologi (ilmu yang mempelajari kulit bumi ) perkembangan bumi dari awal terbentuknya sampai dengan sekarang, terbagi menjadi beberapa jaman yaitu :
a. Jaman azoikum (tidak ada kehidupan )
Jaman ini berlangsung sekitar 2500 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih panas karena sedang dalam proses pembentukan. oleh karena itu pada jaman ini tidak ada tanda-tanda kehidupan.
b. Jaman paleozoikum (kehidupan tertua)
Jaman ini berlangsung sekitar 340 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih terus berubah. Akan tetapi menjelang akhir dari jaman ini mulai ada tanda-tanda kehidupan yaitu dari hewan bersel satu, hewan kecil yang tidak bertulang belakang, jenis ikan, amphibi, reptil dan beberapa jenis tumbuhan ganggang. Karena itulah maka jaman ini dinamakan pula dengan jaman primer (jaman kehidupan pertama ).
c. Jaman mesozoikum (kehidupan pertengahan )
Jaman ini di perkirakan berlangsung sekitar 140 juta tahun, pada jaman ini kehidupan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pohon-pohon besar muncul, amphibi mengalami perkembangan, bahkan jenis reptil mencapai bentuk yang sangat besar sekali seperti dinosaurus tyrannosaurus, brontosaurus , atlantosaurus.
Ada pula jenis reptil yang memiliki sayap dan dapat terbang selama berjam-jam , jenis ini dinamakan dengan pterodon. Jaman ini dinamakan jaman sekunder (kehidupan ke-2), ada pula yang menyebut jaman ini dengan istilah jaman reptil, karena jenis hewan di dominasi oleh reptil dengan bentuk yang sangat besar. Pada akhir jaman ini mulai muncul jenis mamalia .
d. Jaman neozoikum (kehidupan muda)
Jaman ini di perkirakan berlangsung sekitar 60 juta tahun , jaman ini terbagi lagi menjadi jaman tersier (kehidupan ke-3) dan quarter (kehidupan ke-4) . pada jaman ini keadaan bumi telah membaik, perubahan cuaca tidak begitu besar dan kehidupan berkembang dengan pesat .
1. Jaman tersier
Pada jaman tersier, reptil raksasa mulai lenyap, mamalia berkembang pesat, mahluk primate sejenis kera mulai ada kemudian muncul jenis orang utan sekitar 10 juta tahun yang lalu muncul jenis hewan primate yang lebih besar dari pada Gorilla sehingga disebut Giganthropus. Hewan ini menyebar dari Afrika ke Asia Selatan, tetapi kemudian punah. Pada masa itu pulau Kalimantan masih bersatu dengan benua Asia, sebagai buktinya jenis babi purba (choeromous) dari jaman ini ditemukan pula di Asia Daratan.
2. Jaman quarter
Berlangsung sekitar 600 ribu tahun, di tandai dengan adanya tanda-tanda kehidupan manusia. Jaman ini terbagi atas jaman diluvium (pleistocen) dan jaman alluvium (holocen).
Jaman Diluvium berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu, mulai muncul kehidupan manusia purba. Jaman ini dinamakan pula jaman glacial (jaman es) karena es di kutub utara mencair sehingga menutupi sebagian wilayah Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara.
Pada masa ini Sumatera, Jawa, Kalimantan masih menyatu dengan daratan Asia, sedangkan Indonesia timur dengan Australia. Mencairnya es di kutub telah mengakibatkan pulau-pulau di Indonesia di pisahkan oleh lautan baik dengan Asia maupun Australia. Bekas daratan Asia yang sekarang menjadi dasar laut di sebut paparan sunda, sedangkan bekas daratan Australia yang terendam air laut di sebut paparan sahul, kedua paparan tersebut di pisahkan oleh Zone Wallace ( garis wallace).
 
Pada masa ini hewan-hewan yang berbulu tebal seperti mamouth (gajah besar berbulu tebal ) mampu bertahan hidup. Sedangkan yang berbulu tipis migrasi ke wilayah tropis. Perpindahan hewan dari daratan asia ke Indonesia terbagi atas dua jalur. Pertama melalui Malaysia ke Sumatra dan Jawa, kedua melalui Taiwan,  Philipina ke Kalimantan dan Jawa .
Pada jaman ini terjadi pula perpindahan manusia dari daratan Asia ke Indonesia, yaitu Pithecanthropus Erecrus (ditemukan di Trinil) yang sama dengan Sinanthropus Pekinensis. Demikian juga dengan hasil kebudayaan pacitan yang banyak di temukan di Cina,  Malaysia  Birma. Homo Wajakensis yang menjadi nenek moyang bangsa Austroloid ikut pula menyebar dari Asia ke Selatan sampai ke Australia dan menurunkan penduduk asli Australia yaitu bangsa aborigin.
Jaman alluvium, pada masa ini kepulauan Indonesia telah terbentuk dan tidak lagi menyatu dengan Asia maupun Australia.  Jenis manusia pertama yang migrasi dari Asia ke Indonesia sudah  tidak ada dan digantikan oleh jenis manusia cerdas (homo sapiens).


KRONOLOGIS PERKEMBANGAN BIOLOGIS MANUSIA PURBA INDONESIA
 
Kehidupan manusia pra sejarah dapat di ketahui melalui berbagai fosil. berdasarkan penelitian manusia tersebut telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan kehidupan walaupun masih sangat sederhana dan kemampuan berfikir terbatas. Berikut ini beberapa penemuan fosil manusia purba di Indonesia :
A. MEGANTHROPUS PALEO JAVANICUS
Artinya Manusia Jawa Tertua yang Bertubuh Besar, yang hidup di 
 
Jawa sekitar 2-1 juta tahun silam. Manusia ini mempunyai ciri biologis berbadan besar, kening menonjol, tulang pipi tebal, rahang besar dan kuat  makanan utamanya adalah tumbuhan dan buah-buahan, hidup dengan cara food gathering (mengumpulkan makanan). Ralph von koenigswald menemukan fosil dari rahang bawah manusia jenis ini di Sangiran (lembah bengawan solo ) pada 1941.
B. PITECHANTHROPUS
 
Diartikan dengan manusia kera, fosilnya paling banyak di temukan di Indonesia. mereka hidup dengan cara food gathering dan berburu. pitechanthropus terbagi kedalam beberapa jenis yaitu : pitechanthropus mojokertensis robustus, dan erectus.
a. Pitechanthropus mojokertensis fosilnya ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1936, dalam bentuk tengkorak anak-anak berusia 5 tahunan  di Mojokerto (lembah bengawan solo ). Hidup sekitar 2,5-2,25 juta tahun lalu. Ciri – ciri biologisnya antara lain : muka menonjol kedepan , kening tebal dan tulang pipi yang kuat
b. Pitechanthropus robustus , fosilnya di temukan oleh wiedenreich dan Koenigswald di Trinil (ngawi jatim) 1939. ciri biologisnya hampir sama dengan Pitechathropus Mojokertensis, bahkan Koenigswald menganggapnya masih dari jenis yang sama .
c. Pitechanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak ), fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil (ngawi jatim) pada 1890. Mereka hidup sekitar 1 juta sampai 600 ribu tahun yang lalu. Ciri biologisnya bertubuh agak kecil, badan tegap, pengunyah yang kuat, volume otak 900 cc, kemampuan berfikir masih rendah, menurut pendapat Teuku Jacob , manusia ini telah bisa bertutur.
C. HOMO
 
1.     Homo : Artinya manusia. Merupakan jenis manusia purba yang paling maju dibandingkan yang lain. Ciri :
§  Berat badan kira-kira 30-150 kg
§  Volume otaknya lebih dari 1350 cc
§  Alatnya dari batu dan tulang
§  Berjalan tegak
§  Muka & hidung lebar
§  Mulut masih menonjol

Manusia Jenis Homo yang ditemukan di Indonesia antara lain :
1. Homo Soloensis, fosilnya ditemukan antara 1931 -1934 oleh Von Koenigswald, Ter Haar dan Oppennorth di sepanjang lembah Bengawan Solo. Homo Soloensis diperkirakan hidup antara 900-200 ribu tahun lalu. Ciri biologis diantaranya bentuk tubuh tegak, kening tidak menonjol. menurut Koenigswald, jenis ini lebih tinggi tingkatannya dari pitechanthropus erectus.
2. Homo wajakensis, fosilnya ditemukan oleh Rietschoten dan Dubois antara tahun 1888-1889 di desa Wajak (tulung agung ). Ciri biologisnya : tinggi mencapai 130-210 cm, berat badan sekitar 30 – 150 kg, volume otak sampai dengan 1300cc. Mereka hidup dengan makanan yang telah di masak walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana .
Homo di temukan di afrika
§  Homo Sapiens (manusia cerdas) : Berasal dari zaman Holosen, bentuk tubuhnya menyerupai manusia sekarang. Sudah menggunakan akal dan memiliki sifat yang dimiliki manusia sekarang. Kehidupannya masih sederhana dan mengembara. Cirinya :
1.     Volume otaknya 1000-1200 cc
2.     Tinggi badan antara 130-210 cm
3.     Otot tengkuk mengalami penyusutan
4.     Alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan
5.     Muka tidak menonjol ke depan
6.     Berdiri & berjalan tegak
7.     Berdagu
Jenis homo sapiens di dunia terdiri dari subspesies yang menurunkan berbagai manusia :
§  Ras Mongoloid : Berciri kulit kuning, mata sipit, rambut lurus. Menyebar ke Asia Timur (Jepang, Cina, Korea, dan Asia Tenggara)
§  Ras Kaukasoid : Berkulit putih, tinggi, rambut lurus, dan hidung mancung. Penyebarannya ke Eropa, India utara, Yahudi, Arab, Turki, Asia Barat lainnya
§  Ras Negroid : Ciri berkulit hitam, rambut keriting, bibir tebal. Penyebarannya ke Australia, Papua, dan ke Afrika


PETA TEMPAT PENEMUAN MANUSIA JENIS HOMO
1.Sangiran
2. Sambungmacan
3. Sonde
4. Trinil
5. Ngandong
7.
Kedung Brubus
8. Kalibeng
9. Kabuh
10. Pucangan
11.  Mojokerto (Jetis-Perning)
 

Zaman logam Presentation Transcript

1. Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat alat-alat dari logam di samping alat- alat dari batu.
2. Orang sudah mengenal teknik melebur logam, mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan.
3. Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu
Ø dengan cetakan batu yang disebut bivalve 
Ø dengan cetakan tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue.
4.Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.
 Zaman logam ini dibagi atas: –
  •  Zaman Perunggu
  • Zaman Besi
  •  Zaman Tembaga (tidak terlalu berkembang di indonesia)
1. Zaman Perunggu
 Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat kebudayaan) ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
 Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain :
§  Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa- Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irianb. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin.
 Ditemukan di Sumatera, Jawa- Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
·        Kapak Corong
·         Nekara
 Bejana perunggu di Indonesia ditemukan di tepi Danau Kerinci (Sumatera) dan Madura, bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng.Kedua bejana yang ditemukan mempunyai hiasan yang serupa dan sangat indah berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf J.
2.Bejana Perunggu
3. Arca perunggu/patung yang berkembang pada zaman logam memiliki bentuk beranekaragam, ada yang berbentuk manusia, ada juga yang berbentuk binatang. Pada umumnya arca perunggu bentuknya kecil-kecil dan dilengkapi cincin pada bagian atasnya
·        Adapun fungsi dari cincin tersebut sebagai alat untuk menggantungkan arca itu sehingga tidak mustahil arca perunggu yang kecil dipergunakan sebagai liontin/bandul kalung. Daerah penemuan arca perunggu di Indonesia adalah Bangkinang (Riau), Palembang (Sumsel) dan Limbangan (Bogor). 
4. Candrasa
Kalau dilihat dari bentuknya, tentu Candrasa tidak berfungsi sebagai alat pertanian/pertukangan tetapi fungsinya diduga sebagai tanda kebesaran kepala suku dan alat upacara keagamaan. Hal ini karena bentuknya yang indah dan penuh dengan hiasan.
Perhiasan : gelang, anting-anting, kalung dan cincin.
Jenis perhiasan dari perunggu yang ditemukan sangat beragam bentuknya yaitu seperti kalung, gelang tangan dan kaki, bandul kalung dan cincin. Di antara bentuk perhiasan tersebut terdapat cincin yang ukurannya kecil sekali, bahkan lebih kecil dari lingkaran jari anak-anak. Untuk itu para ahli menduga fungsinya sebagai alat tukar (mata uang).
• Daerah penemuan perhiasan perunggu di Indonesia adalah Bogor, Malang dan Bali.
  • Perhiasan
  •  Zaman Besi
 Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C
 Alat-alat besi yang dihasilkan antara lain:
 a. Mata Kapak bertungkai kayu
 b. Mata Pisau
 c. Mata Sabit
 d. Mata Pedang
 e. Cangkul


Untuk Mengetahui Jenis-Jenis Manusia Purba Dan Corak Kehidupan Pada Masa Prasejarah,
Para Ahli Mengadakan Penelitian. Penelitian dilakukan dengan mengadakan Penggalian. Dalam Penggalian sering ditemukan sisa-sisa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang sudah membatu, sisa-sisa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang sudah membatu itu dinamakan fosil, pada waktu penggalian diketahui bahwa bumi kita berlapis-lapis,
Pada tiap-tiap lapisan bumi sering ditemukan fosil-fosil hewan, tumbuhan, dan manusia tertentu yang menjadi ciri khusus dari suatu lapisan. fosil-fosil itu disebut fosil pandu karena fosil ini memberi petunjuk kepada kita bagaimana kira-kira kehidupan manusia pada zaman prasejarah. dari fosil tersebut dapat diketahui usia lapisan bumi dimana fosil ditemukan.
Penelitian ilmiah tentang fosil manusia purba (paleoanthropologi) telah banyak dilakukan oleh para ahli diberbagai daerah diwilayah Indonesia Sejak Tahun 1889 sampai sekarang.

Hasil Budaya Dari Manusia Purba Di Indonesia

Mempelajari hasil kebudayaan dapat memberikan pemahaman akan kehidupan di masa sejarah untuk itu materi kali ini kita akan membahas sejarah yaitu mengenai Hasil Budaya Dari Manusia Purba di Indonesia. Banyak peninggalan hasil budaya yang bisa ditemukan di Indonesia yang menggambarkan kehidupan tempo dulu, lebih jelasnya tentang hasil budaya manusia purba silahkan ikuti pembahasan berikut ini.

1. Budaya Pacitan 

Kapak perimbas adalah kapak yang digenggam dan berbentuk massif. Dengan membandingkan bukit-bukit yang ada di Cina, maka kapak perimbas pendukungnya Pitechanthropus. Movius berpendapat, bahwa di Asia Timur berkembang budaya paleolithik yang berbeda dengan corak yang berkembang di Eropa, Afrika, Asia bagian barat termasuk India. Movius juga menggolongkan budaya kapak menjadi empat jenis yaitu:

a. kapak perimbas (chopper)
b. kapak penetak (chopping tool)
c. pahat genggam (hand axe)

Bahan batu yang digunakan di Indonesia adalah jenis batuan kapur, kersikan, tufa. Di Indonesia alat-alat tersebut paling banyak dan paling lengkap ditemukan di Pacitan. Sarjana yang telah mengadakan penelitian antara lain: Von Koenigswald, MHF. Tweedie, Van Heekeren, dan R.P. Soejono.
Alat-alat Pacitan yang dikumpulkan oleh Von Koenigswald dan digolongkan oleh Movius adalah:
a. kapak perimbas
b. kapak penetak
c. pahat genggam
d. proto kapak genggam
e. kapak genggam
f. alat serpih
g. batu inti dan aneka ragam alat lainnya.

2. Budaya Ngandong

Alat-alat dari tulang ditemukan di Ngandong dan Sidorejo dalam konteks Pitechanthropus Soloensis. Alat-alat ini dibuat dari tulang, tanduk menjangan, dan dari ikan pari dalam bentuk mata tombak, pisau, belati, mata panah. Sedang alat serpih digunakan sebagai pisau, gurdi, dan alat penusuk.

3. Temuan dari Bali dan Nusa Tenggara

R.P. Soejono mengadakan penelitian paleolithik di Sembiran, Bali. Jenis budaya paleolihik yaitu sebagai berikut:
1.     kapak perimbas, alat ini berpenampang lintang trapesium dan tidak ada tanda sudah dipakai, tergolong serut, tajam sebelah, dibuat dari batu kerakal atau pecahan batu. 
2.     Pahat genggam, berbentuk agak persegi berukuran sedang dan kecil. 
3.     Serut pundak, termasuk alat paleolithik yang khusus, belum banyak ditemukan di Indonesia. Berbentuk telapak kuda, tajam berbentuk setengah lingkaran. 
4.     Proto kapak genggam, dibuat dari batu kerakal, bidang bawahnya diratakan, bidang atas meruncing, dan kulit baru tersebut pada genggaman. 
5.     Batu-batu inti, batu martil dan jenis-jenis serut lainnya. 
T. Verhoeven yang mengadakan penelitian di Flores, lokasi alat-alat paleolithik di Wangka, Soa, Mangeruda, Olabula dan Maumere, bentuknya berupa kapak perimbas, kapak penetak, pahat genggam dan proto kapak genggam.

4. Temuan dari Kalimantan dan Sulawesi

Di Kalimantan dilakukan penyelidikan oleh Toer Soetardjo, H. Kupper, Van Heekeren dan didapatkan budaya kapak perimbas dan alat serpih yang terbuat dari kerakal kuarsa dan varian jaspis. Sedangkan di Wallace dan Cabbenge (Sulawesi Selatan) ditemukan alat-alat serpih terbuat dari batu kalsedon dan batuan gamping kersikan. Penelitian dilakukan oleh Van Heekeren.

5. Temuan di Sumatra

Houbolt menyelidiki ditambang sawah dan menemukan proto kapak genggam. Sedangkan di Bungamas (Lahat) didapatkan alat-alat dari batu seperti serut, kapak penetak, pahat genggam dan kapak genggam.

6. Masa Berburu dan Berpindah-Pindah Tingkat Lanjut

Penemuan kebudayaan masa ini tersebar di Indonesia seperti di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Dari penemuan kebudayaan kita mendapat kesimpulan bahwa sudah ada tanda-tanda hidup yang sudah menetap yakni digoa-goa (abris sous roche).

Van Heekeren mengadakan penelitian di Karrasa, Panameanga, dan Pattae (Sulawesi) dan berdasarkan temuannya Heekeren membedakan tiga lapis kebudayaan, yaitu:
1.     Toala I atau Toala Atas, berupa mata panah bersayap dan bergerigi, serut kerang, dan gerabah. 
2.     Toala II atau Toala Tengah, berupa bilah, mata panah berpangkal bundar, dan alat-alat mikrolit. 
3.     Toala III atau Toala Bawah, berupa serpih dan bilah yang agak besar diantaranya serpih berujung cekung, dan serpih bergagang. 
Di kepulauan Nusa Tenggara Timur, tradisi serpih bilah ditemukan di Flores, Roti, dan Timor. Alat penting yang lain berupa sampah dapur (kjokkenmodinger) yang berisi kulit-kulit kerang yang ditemukan di Sumatra Timur. Hasil budaya lain berupa flake (serpihan). Alat ini ditemukan di goa-goa yang memberikan petunjuk bahwa manusia yang hidup dimasa mesolithikum telah hidup di goa. Flake banyak terbuat dari batu berharga atau yang disebut obsidian.

7. Alat Tulang

Tradisi ini berasal dari Vietnam dan Annam, akhirnya sampai ke Jawa Timur. Bentuk alat tersebut seperti bilah, sundip, belati, lancipan, anak panah, dan sumpitan. Penemuan yang terkenal adalah di goa Lawa (Ponorogo). Daerah lain yang sejenis di Goa Lawa adalah Bojonegoro, Tuba, Besuki, dan Bali.

8. Kapak Genggam Sumatra

Tradisi ini berasal dari Asia Tenggara melalui semenanjung Malaya sampailah di Sumatra. Di Sumatra didapatkan di Lhokseumawe, Binjai dan Tamiang, terbuat dari batu andesit, batu pasir, dan batu kuarsit. Kapak sumatra didapatkan cukup banyak dalam bentuk lonjong, bulat dan lancip.



PERKEMBANGAN BUDAYA PADA MASYARAKAT
AWAL INDONESIA

Zaman prasejarah merupakan zaman manusia belum mengenal tulisan. Zaman ini banyak meninggalkan benda yang merupakan hasil dari cipta, rasa dan karsa sesuai dengan masanya sebagai hasil kebudayaan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan Artefak.
Kebudayaan Indonesia pada zaman itu dibagi 2, yaitu :
1. ZAMAN BATU
a. Zaman Batu Tua (Paleolithikum)
 
Pada zaman ini kebutuhan dan pola pikir manusia masih simpel, sehingga alat-alatnya pun masih sederhana, seperti dari batu kasar yang belum di haluskan dan belum banyak ragamnya 
 
·        
Kapak genggam merupakan hasil dari kebudayaan zaman Batu Tua atau Paleolitikum, di mana salah satu manusia pendukungnya adalah Pithecanthropus erectus. Mereka hidup secara berkelompok dan tinggal secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kapak genggam pernah ditemukan oleh Von Koeningswald pada 1935 di Pacitan, Jawa Timur. Hasil penyelidikan menunjukkan kapak jenis
Kapak genggam dibuat dari gamping kersikan dan berbentuk lonjong. Dinamakan kapak genggam karena digunakan dengan cara menggenggam, mirip dengan kapak tetapi tidak bertangkai, yang kemudian sering disebut dengan chopper (alat penetak) atau kapakperimbas.


 
Kapak perimbas adalah kapak yang tajamnya berbentuk konveks (cembung) atau kadang-kadang lurus, diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batu. (Marwati Djoened Poesponegoro;2008, 96).
Melihat seluruh penemuan di wilayah Punung, dari hasil-hasil penggolongan alat-alat Paleolitik yang ada, bahwa jenis kapak Perimbas menduduki tempat utama diantara alat-alat yang massif. Kapak Perimbas budaya Pacitan oleh Heekeren dibagi dalam beberapa jenis yaitu Tipe setrika (iron-heater chopper) yang berbentuk panjang menyerupai setrika, berpenampang lantang plano-konveks, dan memperlihatkan penyerpihan yang tegas dan Tipe kura-kura (tortoise ) yang cirinya beralas membulat dengan permukaan atas yang cembung dan meninggi. (Modul Sejarah "Hayati Tumbuh Subur" kelas X)


b. Zaman Batu Tengah (Mesolithikum)
Pendukungnya Homo Sapiens, hidup mulai menetap, mulai bercocok tanam dan mengenal kesenian. Dan di temukannya alatnya dari batu yang sudah diasah,dan. dihaluskan sebagian saja.
Abris Sous Roches atau tempat perlindungan di bawah karang (gua karang) merupakan tempat tinggal yang digunakan manusia purba yang terdapat di tepi laut atau di daerah pegunungan kapur. Merupakan tempat tinggal yang bersifat sementara yang berbentuk gua. Banyak di temukan di Pacitan (Jawa Timur), Teluk Tiron (Papua), Pulau Seram (Maluku), dan Sulawesi Selatan. Penemuan gua karang tersebut di dasarkan pada bukti fosil manusia purba secara utuh ditemukan di gua karang dekat Pacitan. (http://jatheymuna.blogspot.com/)
 
Kjokkenmodinger atau sampah dapur adalah tumpukan kulit kerang yang menggunung atau membentuk bukit. Kjokkenmodinger ini banyak di temukan di muka di sepanjamg pantai timur pulau Sumatra (Langsa serta medan)

c. Zaman Batu Baru/Muda (Neolithikum)
Alatnya sudah dihaluskan seluruhnya. Hidup sudah mulai menetap, sudah menghasilkan makanan(food producing), Alatyang dihasilkan sudah menunjukan tingkat penguasaan teknologi dan cita seni yang tinggi seperti kapak persegi (beliung persegi) ditemukan di Sumatera, Bali, Jawa, dan kapak lonjong yang ditemukan di Irian, Maluku, Sulawesi Utara, Tanimbar serta perhiasan dan pakaian dari kulit kayu.
Kapang lonjong terbuat dari bahan nefrit yang berwarna hijau dan sudah diasah. Kapak lonjong yang berukuran besar dinamakan Walzenbell sedangkan yang kecil disebut Kleinbell. Daerah pusat kapak lonjong adalah papua dan wilayah Indonesia bagian Timur.

Gerabah terbuat dari tanah liat yang belum memakai pelarikan(roda landasan) tetap. Setelah benda yang dikehendaki terbentuk, maka benda dihaluskan dari luar dan dalam dengan batu kecil yang licin, berupa tembikar (peliuk belangga) yang dihiasi gambar seni.


d. Zaman Batu Besar (Megalithikum)

MASA BERBURU DAN MERAMU (food gathering) / MENGUMPULKAN MAKANAN
a) Kehidupan Sosial
 Pada masyarakat food gathering, mereka sangat menggantungkan diri pada alam. Dimana daerah yang mereka tempati harus dapat memberikan persediaan yang cukup untuk kelangsungan hidup. Oleh karena itu mereka selalu berpindah-pindah.
Sebab mereka hidup berpindah-pindah adalah sebagai berikut:
a. Binatang buruan dan umbi-umbian semakin berkurang di tempat yang mereka diami.
b. Musim kemarau menyebabkan binatang buruan berpindah tempat untuk mencari sumber air yang lebih baik.
c. Mereka berusaha menemukan tempat dimana kebutuhan mereka tersedia lebih banyak dan mudah diperoleh.
· Mereka masih hidup mengembara. Tempat tinggal sementara di gua-gua. Ada pula kelompok yang tinggal di daerah pantai
· Mencari makanan berupa binatang buruan dan tumbuh-tumbuhan liar di tepi sungai atau danau. Mereka mencari kerang sebagai makanannya.
· Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil untuk memudahkan pergerakan dalam mengikuti binatang buruan/ mengumpulkan makanan.
· Dalam kelompok-kelompok tersebut terdapat pembagian tugas kerja. Laki-laki pada umumnya melakukan perburuan. Sementara itu, para wanita mengumpulkan bahan makanan seperti buah-buahan dan merawat anak. Mereka yang memilih dan meramu makanan yang akan di makan.
· Hubungan antar anggota sangat erat, mereka bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidup serta mempertahankan kelompok dari serangan kelompok lain ataupun dari binatang buas.
· Populasi pertumbuhan penduduk sangat kecil karena situasi yang berat, dengan peralatan yang masih sanagat primitif membuat mereka tidak dapat selamat dari berbagai bahaya.
b) Kehidupan Ekonomi
v Pada masa ini belum ada tanda-tanda adanya kehidupan ekonomi.
v Pada masa ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bekerjasama dalam kelompok (10-15 orang) untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sehingga kebutuhan hidup mereka dapat dipenuhi dengan cara mengambil apa yang ada di alam. Ketika persediaan makanan di suatu daerah sudah habis maka mereka akan berpindah dan mencari daerah lain yang menyediakan kebutuhan hidup mereka.
v Memang pada akhir masa ini dapat diketahui bahwa asal kapak genggam dan alat-alat serpih serta alat-alat tulang berasal dari Asia. Namun belum ada bukti-bukti yang menunjukkan adanya tanda-tanda berupa alat penukar.
c) Kehidupan Budaya
ü Dengan peralatan yang masih sangat sederhana, mula-mula bisa membuat rakit, lama kelamaan mereka membuat perahu.
ü Mereka belum mampu membuat gerabah, oleh karena itu, mereka belum mengenal cara memasak makanan, salah satunya yaitu dengan cara membakar.
ü Mereka sudah mengenal perhiasan yang sanagat primitif yaitu dengan cara merangkai kulit-kulit kerang sebagai kalung.
ü Untuk mencukupi kebutuhan hiudup mereka membuat alat-alat dari batu, tulang, dan kayu.
ü Pada masa itu mereka memilih untuk tinggal di goa-goa. Dari tempat tersebut ditemukan peninggalan berupa alat-alat kehidupan yang digunakan pada masa itu, seperti:
- Kapak perimbas, Kapak Penetak, Kapak genggam, Pahat genggam, Alat serpih, Alat-alat dari tulang, dll.
d) Kepercayaan
Pada saat itu masyarakat sudah mengenal kepercayaan pada tingkat awal. Mereka yakin bahwa ada hubungan antara orang yang sudah meninggal dan yang masih hidup.Mereka telah mengenal kepercayaan sistem penguburan sebagai bukti penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Hal ini terbukti dengan didirikan kuburan sebagai bukti penghormatan terakhir pada orang yang meninggal
Hal ini menunjukkan bahwa telah muncul kepercayaan pada masa berburu dan meramu. Dengan penguburan berarti telah muncul konsep kepercayaan tentang adanya hubungan antara orang yang sudah meninggal dengan yang masih hidup.
Manusia purba di Indonesia pada masa ini diperkirakan sudah mengenal bahwa jenazah manusia itu harus dikubur. Kesadaraan akan adanya kekuatan gaib di luar perhitungan manusia. Itulah yang menjadi dasar kepercayaan.


e) Teknologi
Teknologi masa food gathering masih sangat rendah. Hampir semua alat-alat yang digunakan masih sangat sederhana sekedar untuk membantu pekerjaan mereka.
2. MASA BERCOCOK TANAM (food Producing) dan berternak
a) Kehidupan Sosial
Kehidupan bercocok tanamnya dikenal dengan berhuma, yaitu teknik bercocok tanam dengan cara membersihkan hutan dan menanaminya. Setelah tanah tidak subur maka mereka akan berpindah ke tempat lain yang masih subur dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Pada perkembangannya mulai menetapkan kehidupan bercocok tanam pada tanah-tanah persawahan
Telah tinggal menetap di suatu tempat, mereka tinggal di sekitar huma tersebut, dengan cara bercocok tanam dan memelihara hewan-hewan jenis tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah hidup menetap Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia telah dapat menguasai alam lingkungan.
Dengan hidup menetap, merupakan titik awal dan perkembangan kehidupan manusia untuk mencapai kemajuan. Dengan hidup menetap, akal pikiran manusia mulai berkembang dan mengerti akan perubahan-perubahan hidup yang terjadi.
Jumlah anggota kelompoknya semakin besar sehingga membuat kelompok-kelompok perkampungan, meskipun mereka masih sering berpindah-pindah tempat tinggal.
Populasi penduduk meningkat. Usia rata-rata manusia masa ini 35 tahun.
Muncul kegiatan kehidupan perkampungan, oleh karena itu di buat peraturan, untuk menjaga ketertiban kehidupan masyarakat.
Diangkat seorang pemimpin yang berwibawa, kuat, dan disegani untuk mengatur para anggotanya.
Mereka hidup bergotong royong, sehingga mereka saling melengkapi, saling membantu, dan saling berinteraksi dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya.

b) Kehidupan Ekonomi
Mereka telah mengenal sistem barter, dimana terjadi pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sistem barter merupakan langkah awal bagi munculnya sistem perdagangan/ sistem ekonomi dalam masyarakat.
Hubungan antar anggota masyarakat semakin erat baik itu di lingkungan daerah tersebut maupun di luar daerah
Sistem perdagangan semakin berkembang seiring dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat.
Untuk memperlancar diperlukan suatu tempat khusus bagi pertemuan antara pedagang dan pembeli yang pada perkembangannya disebut dengan pasar. Melalui pasar masyarakat dapat memenuhi sebuah kebutuhan hidupnya.
c) Kehidupan Budaya
Kebudayaan semakin berkembang pesat, manusia telah dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik
Peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun tulang
Hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam:
Beliung Persegi, Kapak Lonjong, Mata panah, Gerabah, Perhiasan, Bangunan Megalitikum seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, waruga, arca.
d) Kepercayaan
Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah meninggal
Inti kepercayaannya, yaitu penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh dunia.
Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan berupa tugu-tugu batu/ bangunan megalitikum yang letaknya di puncak bukit, di lereng gunung/ tempat yang lebih tinggi dari daratan sekitarnya. Hal ini muncul dari anggapan masyarakat bahwa roh-roh tersebut berada pada suatu tempat yang lebih tinggi. Terdapat peninggalan yang berhubungan dengan kepercayaan, yaitu terdapat kebudayaan batu besar seperti menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, arca, serta punden berundak
Kepercayaan masyarakat pada masa ini diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi Megalitikum/upacara-upacara keagamaan, persembahan kepada dewa dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda milik pribadi ke kuburnya.
Terdapat kepala suku yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab penuh terhadap kelompok sukunya. Seorang kepala suku dapat mengatur dan melindungi kelompok sukunya dari segala bentuk ancaman seperti, ancaman dari binatang buas, ancaman dari kelompok lainnya, ancaman dari wabah penyakit. Roh nenek moyang selau mengawasi kelompok masyarakatnya. Kepala suku berhak mengambil keputusan apapun.
Wujud kepercayaan pada masa ini tampak dengan telah dihasilkan bangunan megalit, seperti menhir, dolmen, keranda, kubur batu, dll. Adanya bangunan megalit menunjukkan bahwa pemujaan roh nenek moyang mempunyai tempat penting dalam kehidupan rohani pada masa itu. Pada masa itu telah ada pula upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan atau agama.

C. KEPERCAYAAN MASYARAKAT PRASEJARAH DI INDONESIA
Ada 2 sistem kepercayaan pokok yang berkembang pada masyarakat prasejarah Indonesia, yaitu:
a. Animisme, adalah kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda termasuk pohon, batu, sungai, dan gunung.
b. Dinamisme, ialah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan/ kegagalan manusia untuk mempertahankan hidup.
Selain kedua sistem kepercayaan tersebut masih ada yang lain, yaitu:
a. Fetisisme, adalah kepercayaan adanya jiwa dalam benda tertentu (dalam keris, batu mulia/akik)
b. Animatisme, ialah kepercayaan bahwa benda-benda dan tumbuhan itu berjiwa dan berpikir seperti manusia
c. Totemisme, yaitu kepercayaan kepada binatang sebagai totem/ lambang dari dewa nenek moyang baik berupa binatang maupun benda.
d. Syaminisme, adalah kepercayaan akan adanya orang yang dapat menghubungkan manusia dengan roh.
Peralatan penunjang upacara salah satunya Dolmen, yaitu batu yang berbentuk meja dan digunakan sebagai tempat persembahan bagi roh nenek moyang serta mempunyai kekuatan tertinggi yang melindungi mereka.

b) Kehidupan Ekonomi
Mereka telah mengenal sistem barter, dimana terjadi pertukaran barang dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sistem barter merupakan langkah awal bagi munculnya sistem perdagangan/ sistem ekonomi dalam masyarakat.
Hubungan antar anggota masyarakat semakin erat baik itu di lingkungan daerah tersebut maupun di luar daerah
Sistem perdagangan semakin berkembang seiring dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat.
Untuk memperlancar diperlukan suatu tempat khusus bagi pertemuan antara pedagang dan pembeli yang pada perkembangannya disebut dengan pasar. Melalui pasar masyarakat dapat memenuhi sebuah kebutuhan hidupnya.
c) Kehidupan Budaya
Kebudayaan semakin berkembang pesat, manusia telah dapat mengembangkan dirinya untuk menciptakan kebudayaan yang lebih baik
Peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu maupun tulang
Hasil kebudayaan pada masa bercocok tanam:
Beliung Persegi, Kapak Lonjong, Mata panah, Gerabah, Perhiasan, Bangunan Megalitikum seperti menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, waruga, arca.
d) Kepercayaan
Pada masa ini kepercayaan masyarakat semakin bertambah, bahkan masyarakat juga mempunyai konsep tentang apa yang terjadi dengan seseorang yang telah meninggal
Inti kepercayaannya, yaitu penghormatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang sebagai suatu kepercayaan yang berkembang di seluruh dunia.
Di Indonesia, kepercayaan dan pemujaan terhadap roh nenek moyang terlihat melalui peninggalan berupa tugu-tugu batu/ bangunan megalitikum yang letaknya di puncak bukit, di lereng gunung/ tempat yang lebih tinggi dari daratan sekitarnya. Hal ini muncul dari anggapan masyarakat bahwa roh-roh tersebut berada pada suatu tempat yang lebih tinggi. Terdapat peninggalan yang berhubungan dengan kepercayaan, yaitu terdapat kebudayaan batu besar seperti menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, arca, serta punden berundak
Kepercayaan masyarakat pada masa ini diwujudkan dalam berbagai upacara tradisi Megalitikum/upacara-upacara keagamaan, persembahan kepada dewa dan upacara penguburan mayat yang dibekali dengan benda milik pribadi ke kuburnya.
Terdapat kepala suku yang memiliki kekuasaan dan tanggungjawab penuh terhadap kelompok sukunya. Seorang kepala suku dapat mengatur dan melindungi kelompok sukunya dari segala bentuk ancaman seperti, ancaman dari binatang buas, ancaman dari kelompok lainnya, ancaman dari wabah penyakit. Roh nenek moyang selau mengawasi kelompok masyarakatnya. Kepala suku berhak mengambil keputusan apapun.
Wujud kepercayaan pada masa ini tampak dengan telah dihasilkan bangunan megalit, seperti menhir, dolmen, keranda, kubur batu, dll. Adanya bangunan megalit menunjukkan bahwa pemujaan roh nenek moyang mempunyai tempat penting dalam kehidupan rohani pada masa itu. Pada masa itu telah ada pula upacara yang berkaitan erat dengan kepercayaan atau agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar